Orang Tua Khususnya Ibu Hamil Harus Tahu: 3 Hak Bayi Dalam Kandungan Menurut Islam.

Kehamilan adalah hal yang selalu di tunggu tunggu oleh setiap wanita yang ingin menyempurnakan fitrah nya untuk menjadi sorang ibu yang melahirkan anak dan membesarkan anaknya. Selain dari pada itu anugrah di berkati anak juga adalah sebuah titipan yang harus di pertanggung jawabkan kelak di akhirat bagaimana kita menafkahi, mendidik dan mencukupi setiap hak-haknya.

Hak-hak Bayi Dalam Kandungan

Teruntuk orang tua khususnya ibu hamil harus tahu 3 hak bayi dalam kandungan menurut islam, apa saja itu? Mari kita telaah Bersama sama.

hak-anak

1. Hak Untuk Di Nafkahi

Berbicara mengenai Menafkahi istri dan anak itu ialah kewajiban yang harus di penuhi seorang suami yang sekaligus menjadi tanggung jawab bagi suami itu sendiri dan menjadi hak anak dan istrinya. Sekecil apapun nafkah yang di berikan, Allah telah mencukupinya dengan semua kuasa yang Allah SWT miliki menjadikan umatnya di muka bumi ini terhindar dari kelaparan dan lain sebagainya.

Seberapapa pun nafkah yang di berikan oleh suami lengkap dengan jerih payah dan doa sang suami berusaha untuk mencukupi segala kekurangan nya dan kewajiban sang istri ialah mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan rezeqiNya  melalu sang suami.

Teruma sekali ialah rezeqi yang di berikan oleh sang suami ialah rezeqi yang halal yang di peroleh melalui jalan yang benar yaitu jalan yang telah di di tentukan Allah SWT dan berusaha menjahui semua kesesatan-kesesatan dalam mendapatkan rizeqi yang tidak sesuai dengan apa yang telah di perintahkan dan melanggar semua ketentuan Allah SWT.

Bahkan dalam status bertalak tiga, amit  amity a bu.. semua perhatian ini semata mata hanya untuk anak yang masih berada di dalam Rahim ibunya, oleh sebab itu dari pandangan islam terhadap ibu yang sedang hamil masih wajib untuk di nafkahi meskipun sang ibu sudah tidak berhak untuk menerima nafkah atau jaminan tempat tinggal dari sang mantan suami nya tersebut.

Sesuai dengan firman Allah SWT dalam (Qs. Ath-thalaq:6) yang memiliki arti demikian

“…Dan jika mereka (istri-istri yang sudah dita’ak) itu sedang hamil maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin.”

Di jelas kan lagi oleh kesepakatan para ulama bahwa semua yang di lakukkan itu semata mata hanya untuk bayi yang ada di dalam kandungan sang ibu, sebab tidak ada jalan lain untuk menafkahi sang anak yang berada di janin ibunya kecuali dengan memberikan nafkah kepada ibunya tersebut. Oleh sebab itu di wajibkan sang mantan suami untuk manafkahinya.

2. Hak mendapat penjagaan dari hal-hal yang dapat membahayakan Kesehatan janin dan bayi.

Ibu yang dalam keadaan hamil sangat memerlukan perhatian khusus kepada Kesehatan dan perlindungan baik itu kesaehatan ibunya maupun janin yang di kandung nya, oleh sebab itu di dalam hukum islam ibu atau wanita yang sedang hamil bila merasa kekhawatiran dengan Kesehatan janin yang berada di kandungan nya, diperbolehkan untuk tidak berpuasa pada bulan rhamadan contohnya.

Bahkan juga ada beberapa pendapat dari para ulama yang menegaskan bahwa ibu atau wanita yang sedang hamil pada saat bulan puasa Ramadhan contohnya di bebaskan dari kewajibannya membayar kafarat,namun itu semua berlaku bagi ibu/wanita yang sedang hamil, tidak untuk ibu/wanita yang dedang menyusui.

Alasan para ulama mengemukakan hal tersebut iala kedudukan janin sama halnya dengan bagign tubuh wanita yang mengandungnya, maka dari itu kekhawatiran terhadap keselamatan sang janin sama dengan kekhawatiran keselamatan dari Sebagian anggota tubuh wanita yang bersangkutan.

Berbeda kasus jika dengan ibu yang menyusui, jikalau berhalangan muntuk menyusui anak nya masih bisa untuk mengupah orang maupun menggantikan nya dengan susu bubuk jika ada yang bersedia memberikan nya ASI atau bnayak di jumpai kasus jika bayi yang telah lahir tidak mau meminum susu badan.

Maka dari itu untuk ibu yang menyusui dapat membayarkan kewajiban nya yaitu membayar fidyah sesuai dengan firman Allah SWT (Qs. Al-Bawarah:184) ”…Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin.”

3. HAK mendapatkan Penanguhan Hukuman Bagi Sang Ibu

Dalam hal ini jika hukuman tersebut dapat memperngaruhi keadaan janin yang ada di dalam kandungan sang ibu, maka hukuman bagi sang ibu itu wajib untuk du tangguhkan.

Contohnya: dalam sebuah hadits di riwayatkan yang mengisahkan bahwa pernah ada seorang wanita yang hamil dari hasil perzinahaan yang di mana hukuman yang berlaku saat itu adalah di rajam.

Setalah mendengar pengakuan dari wanita tersebut Nabi memanggil wali wanita tersebut dan bersabda: “rawatlah wanita hamil itu dengan baik dan bila telah melahirkan bawalah kepadaku Kembali”

Setelah wanita itu melahirkan dan mengasuh bayinya, datang lah ia menghadap nabi, Nabi pun berkata “ pulanglah dan susuilah ia hingga bisa makan sensendiri”

Beberapa lama kemudian wanita itu pun kemabali datang dan membawa anak nya yang sudah bisa makan makanan nya sendiri dan berkata “ wahai Nabi bayi ini telah ku sapih dan sudah bisa makan makanan nya sendiri”. Barulah Nabi memerintahkan sahabatnya untuk menghukum rajam wanita yang berzina tersebut.

Kisah tersebut menenpatkan Hak dari janin dalam kandungang dan bayi yang telah lahir agar terpenuhi terlebih dahulu dengaan menangguhkan hukuman sang ibu dan berhak atas penanguhan atau penundaan hukuman yang akan di jalaninya.

Artikel Terkait

Tinggalkan komentar